Kurikulum Berdeferensiasi untuk Anak Berbakat

Menurut Sato (1982) kurikulum mencakup semua pengalaman yang diperoleh di sekolah, di rumah dan dalam masyarakat, dan yang membantunya mewujudkan potensinya. Berbeda dengan kurikulum umum yang bertujuan untuk dapat memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak pada umumnya, maka kurikulum berdiferensiasi merupakan jawaban terhadap perbedaan-perbedan dalam minat dan kemampuan anak didik. Sehingga, dengan kurikulum berdiferensiasi setiap anak memiliki peluang besar untuk terus meningkatkan kemampuannya tanpa harus terikat oleh satu kurikulum umum yang menyamaratakan kemampuan seluruh anak.

Pada dasarnya kurikulum berdiferensiasi tetap bertitik tolak pada kurikulum umum yang menjadi dasar bagi semua anak didik. Kurikulum berdiferensiasi juga memberikan pengalaman belajar berupa dasar-dasar keterampilan, pengetahuan, pemahaman, serta pembentukan sikap dan nilai yang memungkinkan anak didik berfungsi sesuai dengan tuntutan masyarakat atau jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Kurikulum berdiferensiasi dikembangkan berdasarkan dari teori spesialisasi berlahan otak (hemisphere specialization), terutama bagi pengembangan belahan otak kanan yang memerlukan rancangan pengalaman belajar untuk pengembangan yang lebih optimal (Kitano & Kirby dalam Semiawan, C, 1992).

Semiawan (1983) menyatakan bahwa bakat-bakat khusus baru dapat dikembangkan atas dasar kurikulum ini. Di samping itu, untuk dapat mewujudkan bakat yang khusus diperlukan juga pengalaman belajar yang khusus. Sehingga, pendidik juga dapat mengetahui keberbakatan anak dan memantaunya sesuai dengan kurikulum yang telah dideferensiasikan.

Hakekat pembelajaran differensiasi

   Penanganan anak-anak berbakat atau cerdas dengan program pengayaan dan percepatan penuh banyak memiliki kelemahan-kelemahan yang merugikan anak itu sendiri, maka telah dikembangkan kurikulum alternative yaitu berdiferensiasi (differentiated instruction ). Pendekatan ini menghendaki agar kebutuhan berbakat dilayani di dalam kelas regular. Program ini menawarkan serangkaian pilihan belajar pada berbakat dengan tujuan menggali dan mengarahkan pengajaran pada tingkat kesiapan, minat, dan profil belajar yang berbeda-beda.Kurikulum berdiferensiasi sangat penting ditekankan untuk anak berbakat. Kurikulum ini memiliki tiga level kurikulum yaitu:

1.          Prescribed Curriculum and Instruction
Level pertama, prescribed curriculum and instruction adalah kurikulum yang dikembangkan oleh standard lokal dan tidak menyediakan kesempatan untuk strategi belajar yang cocok untuk berbakat.

2.          Teacher-Differentiated Curriculum
Pada level kedua, teacher-differentiated curriculum, guru memodifikasi kurikulum yang telah ada menjadi kurikulum yang menarik dan menantang untuk berbakat. Disini, murid tidak hanya dipandang sebagai seorang ‘murid’ saja, tetapi murid adalah pembelajar aktif.

3.          Learner-Differentiated Curriculum.
Level ketiga, learner-differentiated curriculum, adalah level tertinggi dimana murid berbakat dianggap sebagai “producers of knowledge”, bukan hanya “consumers of knowledge”. Level ini mendukung perkembangan self-discovery, self-esteem, kreativitas, dan otonomi. Selain perkembangan kognitif, pada level ini jug mengembangkan faktor sosial dan emosional murid.

Dalam kurikulum berdiferensiasi ini, guru menggunakan beberapa kegiatan, yaitu:

1.          Beragam cara agar dapat mengeksplorasi kurikulum
Dalam kaitan dengan pembelajaran berdiferensiasi, maka para memiliki kebebasan yang luas untuk mengeksplor kurikulum yang dibutuhkan dan sesuai dengan perkembangan mental dan fisiknya, mereka akan memilih dan memilah kurikulum (muatan lokal) yang sesuai dengan kondisinya.

2.          Beragam kegiatan atau proses yang masuk akal sehingga dapat mengerti dan memiliki informasi dan ide
Proses belajar mengajar harus dapat mengembangkan cara belajar untuk mendapatkan, mengelola, menggunakan dan meng-komunikasikan informasi yang di-perlukan. harus terlibat secara aktif dalam proses tersebut baik secara individual ataupun kelompok. Keaktifan itu dapat terlihat dari (Suryosubroto, 1996:72) :
·         Berbuat sesuatu untuk memahami materi pelajaran dengan penuh keyakinan;
·         Mempelajari, memahami, dan menemukan sendiri bagaimana memperoleh situasi pengetahuan;
·         Merasakan sendiri bagaimana tugas-tugas yang diberikan oleh guru kepadanya;
·         Belajar dalam kelompok;
·         Mencoba akan sendiri konsep-konsep tertentu;
·         Mengkomunikasikan hasil pikiran, penemuan dan penghayatan nilai-nilai secara lisan atau penampilan.

4.          Beragam pilihan dimana dapat mendemonstrasikan apa yang telah mereka pelajari
Proses pembelajaran berdiferensiasi harus memberikan ruang yang luas kepada anak didik untuk mendemostrasikan apa- apa yang telah mereka pelajari. Hal ini sangat bermanfaat untuk: Pertama, anak didik belajar menyampaikan atau mengkomunikasikan temuan dan informasi yang dimilikinya; Kedua, anak didik belajar mengapresiasi karya atau infomasi yang disampaikan orang lain (teman); Ketiga, anak didik belajar untuk mendapat masukan, kritikan dan sanggahan terhadap penemuan atau informasi yang disampikan kepada orang lain.

Karakteristik Umum Kurikulum Berdiferensiasi

Pengajaran berdiferensiasi memiliki 4 (empat) karakteristik umum, yaitu:

1.            Pengajaran berfokus pada konsep dan prinsip pokok materi pelajaran.
Dalam poses pembelajaran berdiferensiasi, pengajaran harus berfokus pada konsep atau pokok materi pelajaran sehingga semua dapat mengeksplorasi konsep-konsep pokok bahan ajar. yang agak lambat (struggling learners) bisa memahami dan menggunakan ide- ide dari konsep-konsep yang diajarkan. Sedangkan bagi para berbakat memperluas pemahaman dan aplikasi konsep pokok tersebut.

2.   Evaluasi kesiapan dan perkembangan belajar diakomodasi ke dalam kurikulum.
Kesiapan dan perkembangan belajar harus dievaluasi untuk dijadikan sebagai dasar keputusan penentuan materi serta strategi pembelajaran yang akan diterapkan. Kapasitas belajar seseorang berbeda dengan orang lain. Oleh karena itu, tidak semua memerlukan satu kegiatan atau bagian tertentu dari proses pembelajaran secara sama. Guru perlu terus menerus mengevaluasi kesiapan dan minat dengan memberikan dukungan bila membutuhkan interaksi dan bimbingan tambahan, serta memperluas eksplorasi terutama bagi mereka yang sudah siap untuk mendapatkan pengalaman belajar yang lebih menantang.

3.          Ada pengelompokan secara fleksibel.
Dalam pengajaran berdiferen-siasi, berbakat sering belajar dengan banyak pola, seperti belajar sendiri-sendiri, belajar berpasangan maupun belajar dalam kelompok. Oleh karena itu, pada saat-saat tertentu dapat diberi kebebas-an untuk memilih materi pelajaran dengan media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka masing-masing. Strategi ini memungkinkan untuk belajar lebih cepat bagi mereka yang mampu, sedangkan bagi mereka yang kurang, akan belajar sesuai dengan batas kemampuannya. Contoh untuk strategi belajar-mengajar berdasarkan kecepatan adalah pengajaran modul.

4.          Menjadi penjelajah aktif (active explorer).
Prinsip belajar yang relevan adalah belajar bagaimana belajar (learning how to learn). Artinya, dikelas target pembelajaran bukan sekadar penguasaan materi, melainkan harus belajar juga bagaimana belajar (secara mandiri) untuk hal-hal lain. Ini bisa terjadi apabila dalam kegiatan pembelajaran telah di biasakan untuk berpikir mandiri, berani berpendapat, dan berani bereksperimen, sehingga tidak merasa terkekang dan potensi kreativitasnya dapat tumbuh dengan sempurna. Tugas guru adalah membimbing eksplorasi tersebut, karena beragam kegiatan dapat terjadi secara simultan di dalam kelas, guru akan berperan sebagai pembimbing dan fasilitator, dan bukannya sebagai dispenser informasi.

Prinsip –prinsip pengajaran berdifferensiasi

1.          Prinsip Individualitas
Perbedaan individual merupakan salah satu masalah utama dalam proses belajar-mengajar. Ketidakmampuan guru melihat perbedaan-perbedaan individual anak dalam kelas yang dihadapi akan menyebabkan kegagalan dalam memelihara dan membina interaksi edukatif secara efektif. Pengajaran individual bukanlah semata-mata pengajaran yang hanya ditujukan kepada seorang raja, melainkan dapat saja ditujukan kepada sekelompok atau kelas, namun dengan mengakui dan melayani perbedaan-perbedaan sehingga pengajaran itu memungkinkan berkembangnya potensi masing-masing secara optimal.

2.          Prinsip Belajar Tuntas
Belajar tuntas (mastery learning) adalah suatu proses pembelajaran yang mengakui bahwa semua anak memiliki kemampuan yang sama dan bisa belajar apa saja, hanya waktu yang diperlukan untuk mencapai kemampuan tertentu berbeda. tidak diperkenankan mengerjakan pekerjaan berikutnya, sebelum mampu menyelesaikan pekerjaan dengan prosedur yang benar, dan hasil yang baik.

3.          Prinsip Motivasi
Motif adalah daya dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu. Sedangkan motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan. Guru memiliki peran yang besar untuk menumbuhkan motivasi eksternal, diantaranya: Pertama, menggunakan cara atau metode dan media mengajar yang bervariasi; Kedua , memilih bahan yang menarik minat dan dibutuhkan ; Ketiga, memberikan sasaran antara; Keempat , memberikan kesempatan sukses; Kelima, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan; dan Keenam, menciptakan persaingan yang sehat.

4.          Prinsip Latar/Konteks
Latar atau konteks mengandung arti bahwa pembelajaran harus dikaitkan dengan situasi dunia nyata , sehingga mendorong membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai individu maupun anggota keluarga, masyarakat, dan bangsa. Dengan konsep ini, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi.

5.          Prinsip Minat dan Kebutuhan
Minat merupakan suatu sifat yang relatif menetap pada diri seseorang, sedangkan kebutuhan adalah sesuatu yang dibutuhkan oleh seseorang. Oleh karena itu, minat dan kebutuhan merupakan utama yang menentukan derajat keaktifan belajar . Dengan demikian dalam rangka meningkatkan aktivitas dalam belajar, maka materi pembelajaran dan cara penyampaiannya pun harus disesuaikan dengan minat dan kebutuhan tersebut.

6.          Prinsip Penilaian (Assessment)
Penilaian (assessment) dibagi menjadi dua katagori yaitu: Pertama, informal assessment , biasanya dilakukan oleh guru melalui observasi berbagai keterampilan, dan mempelajari laporan, maupun melalui tes yang dibuat guru untuk mengetahui tingkat penguasaan pelajaran yang telah diajarkan; Kedua, formal assessment yaitu penilaian lewat tes standar seperti tes hasil belajar, tes inteligensi, wawancara dengan orang tua, tes bahasa, kepribadian, kreatif, kemampuan fisik, minat dan sebagainya.

7.          Prinsip Terpadu
Artinya penyelenggaraan pembelajaran anak berbakat dikembangkan dan dilaksanakan di sekolah biasa. Anak dengan berbagai perbedaan belajar di ruang kelas yang sama.

Unsur- unsur Kurikulum Diferensiasi

Beberapa unsur pokok yang perlu diperhatikan dalam kurikulum berdiferensiasi, yaitu :

1.          Materi (konten) yang dipercepat atau lebih maju.
2.          Pemahaman yang lebih majemuk.
3.          Bekerja dengan konsep dan proses pemikiran yang abstrak.
4.  Waktu belajar untuk tugas rutin dapat dipercepat, dan waktu untuk memahami suatu topik dapat lebih lama.
5.          Menciptakan informasi atau topik baru.
6.          Kemandirian dalam berpikir dan belajar.
7.          Memindahkan pembelajaran kebidang lain yang lebih menantang.

Asas-asas Kurikulum Diferensiasi

Asas-asas kurikulum berdiferensiasi yang dikembangkan oleh Leadership Training Institute sebagai berikut :

1.          Menyampaikan materi/konten yang berhubungan dengan isu, tema dan masalah yang luas.
2.          Memadukan banak disiplin dalam setiap bidang.
3.          Memberikan pengalamn yang komprehensif.
4.          Memberi kesempatan untuk mendalami topik yang telah dipilih

Kendala-kendala Yang Dihadapi Guru Dalam Menggunakan Kurikulum Diferensiasi Untuk Anak Berbakat

Kendala-kendala yang dihadapi ketika menggunakan kurikulum berdiferensiasi untuk anak berbakat, guru memiliki kesulitan dalam :

1.     Memodifikasi materi untuk anak berbakat, dalam hal ini guru kesulitan dalam menyiapkan materi yang cocok dan menyediakan bahan yang lebih bagus atau canggih untuk anak berbakat.
2.     Menentukan metode pembelajaran yang berbeda yang dapat digunakan pada saat yang sama.
3.           Merancang produk pembelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan anak untuk memahami materi pembelajaran, dan menunjukkan kreativitasnya untuk dapat juga merancang produk berdasarkan pengalaman belajarnya.
4.            Lingkungan yang kurang kondusif.

Dampak Kurikulum Untuk Anak Berbakat Pada Saat Sekarang

Dampak kurikulum untuk anak berbakat saat sekrang ini dapat kita lihat dari segi prestasi, dimana dampak tersebut adalah :

1.          Prestasi fisik, dimana dengan dampak ini yang dapat dicapai oleh anak berbakat adalah mereka yang memiliki daya tahan tubuh yang prima serta koordinasi gerak fisik.
2.          Prestasi psikologis, dimana anak berbakat memiliki kemampuan emosi yang unggul dan secara sosial pada umumnya mereka adalah anak-anak yang populer serta lebih mudah diterima.
3.          Prestasi akademik, pada dasarnya anak berbakat memiliki system syaraf pusat (otak dan spinal cord) yang prima. Jadi, pada prestasi ini anak berbakat dapat mencapai tingkat kognitif yang tinggi.

Dan jika dilihat dari segi dampak dalam karakteristik, dampak kurikulum untuk anak berbakat pada saat sekarang ini adalah :

1.    Mampu mengaktualisasikan pernyataan secara fisik berdasarkan pemahaman pengetahuan yang sedikit.
2.     Dapat mendominasi diskusi.
3.     Tidak sabar untuk segera maju ke tingkat berikutnya.
4.     Suka rebut.
5.  Memilih kegiatan membaca dari pada berpartisipasi aktif dalam kegiatan masyarakat, atau kegiatan fisik.
6.     Suka melawan aturan, petunjuk-petunjuk, atau prosedur tertentu.
7.    Jika memimpin diskusi akan membawa situasi diskusi ke situasi yang harus selalu tuntas.

Sumber Referensi:

Munandar, Utami. 2009. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta : Rineka Cipta.
Semiawan, Conny R.2010. Kreativitas Keberbakatan : Mengapa, Apa, dan Bagaimana. Jakarta : PT Indeks.
https://mellyhandayanicyrus.wordpress.com/2015/05/16/kurikulum-berdifferensiasi-untuk-anak-berbakat/

Teori Anak Berbakat Barbe dan Renzulli

Definisi Anak Berbakat

Menurut Renzulli (dalam Gunarsa & Gunarsa, 2004) Anak berbakat merupakan satu interaksi diantara tiga sifat dasar manusia yang menyatu ikatan terdiri dari kemampuan umum dengan tingkatnya di atas kemampuan rata- rata, komitmen yang tinggi terhadap tugas dan kreativitas yang tinggi.

Menurut Menurut Marland (dalam Gunarsa & Gunarsa, 2004) Anak berbakat adalah mereka yang diidentifikasi oleh ahli yang profesional sebagai memiliki kemampuan yang menonjol untuk berkinerja tinggi. Anak-anak ini memerlukan program pendidikan dan/atau pelayanan yang dibedakan, melebihi yang biasa disediakan oleh program sekolah reguler, agar dapat merealisasikan kontribusinya terhadap dirinya sendiri maupun masyarakat.

Jadi, berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa anak berbakat adalah mereka yang diidentifikasi memiliki kemampuan yang menonjol dari segi kemampuan umum, komitmen kinerja, dan kreativitas. Hal itu membuat mereka berbeda dari anak-anak pada umumnya dan membutuhkan pendidikan khusus agar dapat berkembang secara optimal.

Ciri-ciri Anak Berbakat

Ciri-ciri anak berbakat menurut Renzulli, J (dalam Gunarsa & Gunarsa, 2004) anak berbakat adalah mereka yang memiliki :

1.   Above Average Ability (Kemampuan diatas rata-rata) 
Beberapa orang mengartikan ini sebagai skor IQ yang tinggi. Tapi menurut saya, yang dimaksud Renzulli kemampuan diatas rata-rata adalah kemampuan seseorang diatas rata-rata pada bakat tertentu, tidak menyempit pada inteligensi. Hey,bakat itu banyak. Jadi bisa saja kemampuan diatas rata-rata pada olahraga, musik, menulis, dan saudara-saudaranya.

2. Task Commitment (Tanggung jawab atau komitmen yang tinggi terhadap tugas)
Mereka mungkin akan begitu fokus pada tugas yang diberikan atau yang mereka buat sendiri terlebih tugas itu menyangkut bakatnya. Misal seorang yang berkomitmen menyelesaikan lukisannya dan mengerjakannya dengan baik.

3.   Creativity (Kreativitas)
Keberbakatan seseorang ternyata tergantung pula dari unsur kreativitas seperti: keaslian (originalitas), mencari dan menciptakan hal-hal baru dan kekhususan yang diperlihatkan dan dipergunakan untuk mencapai sesuatu.

Menerapkan pembelajaran Anak Berbakat

Implikasi bagi guru anak berbakat disimpulkan oleh Barbie dan Renzulli (dalam mellyhandayani 2015) sebagai berikut:

·Guru perlu memahami diri sendiri, karena anak yang belajar tidak hanya dipengaruhi oleh apa yang dilakukan guru, tetapi juga bagaimana guru melakukannya.
·Guru perlu memiliki pengertian tentang keterbakatan.
·Guru hendaknya mengusahakan suatu lingkungan belajar sesuai dengan perkembangan yang unggul dari kemampuan-kemampuan anak.
·Guru memberikan tantangan daripada tekanan.
·Guru tidak hanya memperhatikan produk atau hasil belajar siswa, tetapi lebih-lebih proses belajar.
·Guru lebih baik memberikan umpan balik daripada penilaian harus menyediakan beberapa alternatif strategi belajar
·Guru hendaknya dapat menciptakan suasana di dalam kelas yang menunjang rasa harga diri anak serta dimana anak merasa aman dan berani mengambil resiko dalam menentukan pendapat dan keputusan.


Sumber Referensi

Gunarsa, S. D. & Gunarsa, Y. S. D. (2004). Psikologi praktis : Anak, remaja, dan keluarga. Jakarta : Gunung Mulia.

Mellyhandayani. (2015, 16 Mei). Implementasi teori Barbe dan Renzulli dalam pembelajaran. Diperoleh 14 November 2017, dari
    https://mellyhandayanicyrus.wordpress.com/2015/05/16/implementasi-teori-barbe-dan-renzulli-dalam-pembelajaran/

Pengertian Kreativitas (Konsepsional 4P)

     Menurut Semiawan dalam Yeni Rachmawati (2005:16) mengemukakan bahwa kreativitas merupakan kemampuan untuk memberikan gagasan baru dan menerapkannya dalam pemecahan masalah. Menurut Chaplin dalam Yeni Rachmawati (2005:16) mengutarakan bahwa kreativitas adalah kemampuan menghasilkan bentuk baru dalam seni, atau, dalam permesinan, atau dalam pemecahan masalah-masalah dengan metode-metode baru.

     Menurut Utami Munandar (1995: 45) setiap orang pada dasarnya memiliki bakat kreatif dan kemampuan untuk mengungkapkan dirinya secara kreatif, meskipun masing-masing dalam bidang dan dalam kadar yang berbeda-beda. Yang terutama penting bagi dunia pendidikan ialah bahwa bakat tersebut dapat dan perlu dikembangkan dan ditingkatkan. Sehubungan dengan pengembangan kreativitas siswa, kita perlu meninjau empat aspek dari kreativitas, yaitu pribadi, pendorong, press, proses, dan produk (4P dari kreativitas).

Pribadi

Kreativitas adalah ungkapan (ekspresi) dari keunikan individu dalam interaksi dengan lingkungannya. Ungkapan kreatif ialah yang mencerminkan orisinilitas dari individu tersebut. Dari ungkapan pribadi yang unik inilah dapt diharapkan timbulnya ide-ide baru dan produk-produk yang inovatif. Oleh karena itu pendidik hendaknya dapat menghargai keunikan pribadi dan bakat-bakat siswanya (jangan mengharapkan semua melakukan atau menghasilkan hal-hal yang sama, atau mempunyai minat yang sama). Guru hendaknya membantu siswanya menemukan bakat-bakatnya dan menghargainya.

Pendorong (press)

Bakat kreatif siswa akan terwujud jika ada dorongan dan dukungan dari lingkungannya, ataupun jika ada dorongan kuuat dalam dirinya sendiri ( motivasi internal) untuk menghasilkan sesuatu. Bakat kreatif dapat berkembang dalam lingkungan yang mendukung tetapi dapt pula terhambat dalam lingkungan yang tidak menunjang. Di dalam keluarga, di sekolah, di dalam lingkungan pekerjaan maupun di dalam masyarakat harus ada penghargaan dan dukungan terhadap sikap dan perilaku kreatif individu atau kelompok individu

Proses

Untuk mengembangkan kreatif, anak perlu diberi kesempatan untuk bersibuk diri secara aktif. Pendidik hendaknya dapat merangsang untuk melibatkan dirinya dalam kegiatan kreatif, dengan membantu mengusahakan sarana dan prasarana yang diperlukan. Dalam hal ini yang penting ialah memberi kebebasan kepada anak untuk mengesprsikan dirinya secara aktif, tentu saja dengan persyaratan tidak merugikan orang lain atau lingkungan. Pertama-tama yang perlu ialah proses bersibuk diri secara kreatif tanpa perlu selalu atau terlalu cepat menuntut dihasilkannya produk-produk kreatif yang bermakna. Hal itu akan datang dengan sendirinya dalam iklim yang menunjang, menerima, dan menghargai. Perlu pula diingat bahwa kurikulum sekolah yang terlalu padat sehingga tidak ada peluang untuk kegiatan kreatif, dan jenis pekerjaan yang monoton, tidak menunjang siswa untuk mengungkapkan dirinya secara kreatif.

Produk

Kondisi yang memungkinkan seseorang menciptakan produk kreatif yang bermakna ialah kondisi pribadi dan kondisi lingkungan, yaitu sejauh mana keduanya mendorong (“press”) seseorang untuk melibatkan dirinya dalam proses (kesibukan, kegiatan) kreatif dengan dimilikinya bakat dan ciri-ciri pribadi kreatif, dan dengan dorongan (internal maupun eksternal) untuk bersibuk diri secara kreatif, maka produk-produk kreatif yang bermakna dengan sendirinya akan timbul. Hendaknya pendidik menghargai produk kreativitas anak dan mengkomunikasikannya kepada yang lain. Misalnya dengan mempertunjukkan atau memamerkan hasil karya anak. Ini akan lebih menggugah minat anak untuk berkreasi.


Sumber Pustaka:

Rahmawati, Yeni & Euis Kurniati. (2005). Strategi pengembangan kreativitas pada anak usia taman kanak-kanak. Jakarta : Depdikbud.
Munandar, Utami. (1995). Pengembangan kreativitas anak berbakat. Jakarta: P.T. Rineka Cipta.


Game Online

Dari tahun ke tahun perkembangan internet seperti jamur yang tidak terkendali, setiap hari sepertinya sulit bagi kita untuk tidak membuka atau mengakses internet, memang tidak bisa dipungkiri bahwa internet sudah menjadi candu bagi sebagian besar orang di dunia. E-mail, media sosial, dan game online adalah tiga aplikasi yang paling sering dibuka oleh pengguna layanan internet. Game online adalah aplikasi permainan dengan sambungan (terhubung) ke jaringan internet yang menghubungkan satu pemain dengan pemain lainnya dalam suatu wadah dunia maya. Pengaruh game online cukup besar dalam perkembangan kognitif dan kepribadian anak pada fase kanak-kanak hingga remaja, khususnya di Indonesia. Sebagian besar dari anak-anak atau remaja di Indonesia memiliki game online pada gadget atau console mereka masing-masing yang pastinya mereka mainkan sedikitnya satu kali dalam sehari yang berpengaruh terhadap aktivitas harian anak. Namun, sebagian orang masih memandang "Game" hanya sebagai alat pembunuh waktu yang tidak berguna tanpa melihat adanya sisi positifnya bagi perkembangan anak.

Pada prinsipnya, game sendiri terdiri dari bermacam-macam jenis permainan yang mempunyai derajat kesukaran yang tidak sama, sehingga memerlukan kesiapan, penalaran, dan konsentrasi. Dari pengamatan terhadap pemain terlihat bahwa mereka tahan duduk berjam-jam untuk bisa menyelesaikan permainan itu. Mereka bahkan tidak mau diusik, mereka larut dalam keasyikan permainan itu. Apalagi dalam permainan ini juga dirancang suatu reinforcement yang bersifat segera begitu pemain berhasil melampaui target tertentu. Cara ini akan lebih mendorong anak untuk meningkatkan prestasi permainannya sehingga memperoleh skor yang tertinggi. Meskipun game membuat anak kecanduan, namun ada manfaat yang dirasakan untuk anak-anak. Game membuat anak lebih sabar dan tekun. Ketika anak berjumpa dengan console dan game baru, maka ia akan mudah kesal dan marah, namun seiring berjalannya waktu, anak mampu untuk menemukan cara untuk memenangkan suatu stage dan mulai beradaptasi dengan aturan main game tersebut sehingga anak secara tidak langsung dilatih untuk memecahkan masalah dan mengasah kemampuan analisnya. Pada dasarnya, manusia senang merespon terhadap tantangan, game dapat menjawab hal ini. Selain untuk belajar, game juga dapat mengembalikan prediksi anak (kemampuan analis) dan melatih refleks motorik halusnya. Banyak  orang menganggap bahwa game akan membuat anak terisolasi dari dunia luar, walaupun game online memberikan keunggulan untuk berinteraksi dengan pemain lain, hal ini tidak membuat pemain terjun langsung dan mengambil peran dalam kehidupan sosial. Memang harus diakui bahwa interaksi antar manusia dalam jaringan itnernet tidak mampu menggantikan interaksi antar manusia yang lazim. Game mampu meningkatkan kemalasan pada anak dan mengambat anak dalam mengerjakan tugas-tugas rutinnya. Bisa saja anak jadi malas mandi, malas makan, juga malas belajar. Tetapi bermain game sebenarnya juga membuat kepercayaan diri anak menjadi besar. Ia merasa mempunyai sesuatu yang dapat dibanggakan kepada teman sabayanya sehingga tidak canggung untuk bergaul dengan teman yang baru dikenal. (Akbar & Hawadi, 2001)

Dampak positif lain yang ditimbulkan aktivitas bermain game online adalah mengusir stress. Aktivitas ini dapat mengendurkan syaraf. Di samping itu, dalam jenis game tertentu juga bermanfaat untuk terapi fisik dalam pembentukan otot serta memperoleh inspirasi. Tetapi, pastikan kita tidak terjebak dalam game yang memakan waktu sangat lama dan tingkat kesulitan yang sangat tinggi, karena kegagalan dalam hal ini justru bisa menimbulkan stress. Pilihlah game yang mampu mengasah otak dan mampu memberikan dampak positif lainnya. (Jubilee, 2010) 

Telah banyak bukti bahwa konten dalam game mempengaruhi perilaku seseorang, tidak sedikit pula konten game yang menyajikan kekerasan dan hal negatif lainnya yang berdampak cukup hebat bagi psikologis kita, hal ini juga bertambah parah lantaran game dijadikan sebagai pelarian oleh para remaja. Kalau sudah bete atau badmood untuk pergi ke sekolah, pasti larinya ke game lagi.. game lagi.. Celakanya game jadi tempat pelampiasan emosi kita, emosi yang tidak stabil mengakibatkan kita sulit berkonsentrasi dan berpikir dalam memecahkan permasalahan dalam game, sehingga bukannya kemenangan yang membahagiakan justru malah mendapatkan kekalahan yang membuat emosi kita semakin buruk. Anak-anak dan remaja masa kini sangat bangga dengan julukan gamer. Namun tahukah kalian bahwa gamer sejati sudah cukup pandai dalam mengatur waktunya, serta menganggap bahwa game itu hanya sebagai hiburan dengan memilih jenis game yang tepat dan dimainkan saat emosi kita juga dalam keadaan yang sesuai untuk game tersebut. Dan bermain game bukanlah jalan terbaik untuk melampiaskan kekesalan atau rasa badmood, alangkah baiknya kita ceritakan masalah kita pada orang yang kita percayai, bukan melalui celotehan, cacian, atau bentuk ekspresi lain yang kita umbar dalam game online yang kita mainkan. (Januar & Turmudzi, 2006)

Menurut Segal & Segal (dalam Akbar & Hawadi, 2001) menyatakan bahwa game merupakan sarana untuk membentuk kepercayaan diri anak. Para ahli perkembangan anak juga memandang bahwa game mampu memperluas cakrawala intelektual anak, membantu anak belajar sambil bermain dengan lebih baik, lebih cepat dengan motivasi belajar lebih tinggi. Namun, memang sebaiknya jumlah waktu untuk bermain dibatasi. Di samping itu, anak dirangsang untuk bermain dalam kelompok, jadi usahakan agar dalam bermain game anak juga mengajak anak lainnya (bukan dalam interaksi dunia maya).

Ketika peminat meningkat, maka penyedia layanan internet untuk bermain game maupun game creator juga akan tumbuh dengan pesat. Menurut Darma, Jarot, & Ananda (2009), game online saat ini menjadi bisnis yang sangat menjanjikan. Lihatlah sekeliling kita, mulai banyak warung internet (Warnet) -istilah yang digunakan untuk tempat penyewaan console dengan layanan internet- yang tumbuh dan bermunculan. Jika dulu warnet hanya digunakan untuk browsing, sekarang warnet dijadikan arena untuk bermain game. hal ini dikarenakan kecenderungan makin hari para penggemar game makin bosan bermain sendiri dan memilih berain bersama pemain lain (bukan komputer). Di samping itu, bermain game dengan pemain lain terasa lebih nyata dan menimbulkan tantangan tersendiri. Berbeda dengan berman melawan komputer yang kesannya monoton dan gerakan musuh gampang dihapalkan karena dia telah diprogram seperti itu. 

Sumber Pustaka:
Akbar R. & Hawadi. (2001). Psikologi perkembangan anak : mengenal sifat, bakat, dan kemampuan anak. Jakarta : PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.
Darma, Jarot S., Ananda S. (2009). Buku pintar menguasai internet. Jakarta : Mediakita.
Januar M. I. & Turmudzi E. F. (2006). Game mania. Jakarta : Gema Insani Press
Jubilee E. (2010). 88 cara inspiratif berburu ide untuk blog. Jakarta : PT. Elex Media Komputindo

Seks dalam Internet

     Masa modern identik dengan segala hal yang praktis dan cepat. Kemudahan mengakses berbagai informasi melalui internet membuat dengan mudah mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang kita miliki. Internet menghubungkan satu orang dengan orang lain yang tidak saling mengenal latar belakang bahkan tujuan masing - masing orang dalam menggunakan jaringan ini. Hal ini membuat pengguna internet terbagi atas dua; creator (seseorang yang membuat atau memberikan informasi, baik dalam bentuk gambar, tulisan, ataupun video) dan user (seseorang yang menggunakan informasi yang dibuat oleh creator untuk memenuhi tujuannya).

     Segala sesuatu pasti akan selalu terbagi atas sisi "hitam-putih", begitu pula internet. Memang benar adanya bila internet memberikan manfaat yang sangat besar bagi kehidupan kita, tetapi tidak dapat kita pungkiri bahwa terdapat dampak negatif yang sangat besar di balik sisi positifnya. Dikarenakan internet dapat diakses oleh segala umur, membuat mereka (biasanya anak-anak sampai remaja) cenderung menggunakan internet dengan tidak bijak, mulai dari sekedar berkicau di sosial media, menghujat, menonton video yang tidak pantas, bahkan hingga mencari sensasi selebriti.
 

     Creator dengan bebas dapat mengekspresikan berbagai hal dalam jaringan internet, beberapa dari mereka membagikan hal-hal positif yang mengedukasi user, adapun sebagian dari creator yang justru membuat atau membagikan hal-hal negatif. Salah satunya adalah Ponografi. McManus (dalam Gunarsa, 2010) mengemukakan bahwa terdapat beberapa efek negatif yang dialami remaja akibat cepatnya perubahan dan perkembangan teknologi internet, yaitu meningkatnya agresivitas dalam kehidupan seks.
 

     Pornografi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah penggambaran tingkah laku secara erotis dengan tulisan atau lukisan untuk membangkitan nafsu birahi; atau bahan bacaan yang dengan sengaja dan semata-mata dirancang untuk membangkitkan nafsu berahi dalam seks. sedangkan menurut Rancangan Undang-Undang, definisi pornografi disebutkan dalam pasal 1, yang menyatakan bahwa pornografi adalah materi seksualitas yang dibuat oleh manusia dalam bentuk gambar, sketsa, ilustrasi foto, tulisan, suara, bunyi, gambar, bergerak animasi, kartun, syari, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan komunikasi lain melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat. (Chatib, 2012)
 

     Pornorgrafi dapat berakibat fatal bagi para user (terlebih lagi yang masih di bawah umur), karena dapat menyebabkan kecanduan dan merusak jaringan sel pada otak, sehingga user tersebut dapat mengalami gangguan pada kemampuannya dalam berpikir, penalaran, atau ingatan (kognitif). Pada kasus user yang secara berkala mengkonsumi pornografi dalam internet akan membuat otak bagian depan atau lebih tepatnya pada lobus frontal (bagian yang mengatur kesenangan) memproduksi hormon dopamin secara berlebihan, sehingga membuat penumpukan dan mungkin berujung pada penyumbatan yang dapat menurunkan kinerja bagian otak lain atau bahkan merusaknya. Karena saat otak kita gunakan secara berlebihan (terfokus) pada satu bagian, maka bagian otak yang lainnya akan cenderung pasif dan tidak dapat menerima stimulus dengan baik. itu sebabnya kita sering tersandung saat sedang berjalan sambil memikirkan suatu hal. Pornografi juga merusak jaringan otak dengan penanaman pengalaman atau persepsi negatif yang sewaktu-waktu dapat terpanggil dan kembali dalam bentuk ingatan atau bayangan yang membuat user berpikiran kotor.

     "Tidak mungkin ada asap kalau tidak ada api", tidak mungkin ada creator yang membuat atau membagikan hal-hal negatif kalau tidak ada user yang mengkonsumsinya. Jadi, tidak ada orang yang dapat kita salahkan dalam kasus ini. Tetapi alangkah baiknya kita lebih bijak dalam menggunakan internet, dapat pula kita melindungi adik atau anak yang kita sayangi dengan memberikan pengawasan dan edukasi dini agar mereka mengerti dan tahu apa yang mereka ingin tahu dari mulut (perkataan) kita selaku orang yang tua atau orang yang lebih mengerti dan sudah cukup bijak dalam menggunakan internet, sehingga mereka tidak perlu mencari sendiri dengan sumber yang belum pasti yang dapat menjerumuskan mereka pada rantai sisi hitam jaringan internet.

Daftar Pustaka:
Gunarsa, D. S. (2010). Dari anak sampai usia lanjut. Jakarta : BPK Gunung Mulia
Chatib, M. (2012). Orangtuanya manusia : melejitkan potensi dan kecerdasan fitrah setiap anak. Bandung : PT Mizan Pustaka