Teori Anak Berbakat Barbe dan Renzulli

Definisi Anak Berbakat

Menurut Renzulli (dalam Gunarsa & Gunarsa, 2004) Anak berbakat merupakan satu interaksi diantara tiga sifat dasar manusia yang menyatu ikatan terdiri dari kemampuan umum dengan tingkatnya di atas kemampuan rata- rata, komitmen yang tinggi terhadap tugas dan kreativitas yang tinggi.

Menurut Menurut Marland (dalam Gunarsa & Gunarsa, 2004) Anak berbakat adalah mereka yang diidentifikasi oleh ahli yang profesional sebagai memiliki kemampuan yang menonjol untuk berkinerja tinggi. Anak-anak ini memerlukan program pendidikan dan/atau pelayanan yang dibedakan, melebihi yang biasa disediakan oleh program sekolah reguler, agar dapat merealisasikan kontribusinya terhadap dirinya sendiri maupun masyarakat.

Jadi, berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa anak berbakat adalah mereka yang diidentifikasi memiliki kemampuan yang menonjol dari segi kemampuan umum, komitmen kinerja, dan kreativitas. Hal itu membuat mereka berbeda dari anak-anak pada umumnya dan membutuhkan pendidikan khusus agar dapat berkembang secara optimal.

Ciri-ciri Anak Berbakat

Ciri-ciri anak berbakat menurut Renzulli, J (dalam Gunarsa & Gunarsa, 2004) anak berbakat adalah mereka yang memiliki :

1.   Above Average Ability (Kemampuan diatas rata-rata) 
Beberapa orang mengartikan ini sebagai skor IQ yang tinggi. Tapi menurut saya, yang dimaksud Renzulli kemampuan diatas rata-rata adalah kemampuan seseorang diatas rata-rata pada bakat tertentu, tidak menyempit pada inteligensi. Hey,bakat itu banyak. Jadi bisa saja kemampuan diatas rata-rata pada olahraga, musik, menulis, dan saudara-saudaranya.

2. Task Commitment (Tanggung jawab atau komitmen yang tinggi terhadap tugas)
Mereka mungkin akan begitu fokus pada tugas yang diberikan atau yang mereka buat sendiri terlebih tugas itu menyangkut bakatnya. Misal seorang yang berkomitmen menyelesaikan lukisannya dan mengerjakannya dengan baik.

3.   Creativity (Kreativitas)
Keberbakatan seseorang ternyata tergantung pula dari unsur kreativitas seperti: keaslian (originalitas), mencari dan menciptakan hal-hal baru dan kekhususan yang diperlihatkan dan dipergunakan untuk mencapai sesuatu.

Menerapkan pembelajaran Anak Berbakat

Implikasi bagi guru anak berbakat disimpulkan oleh Barbie dan Renzulli (dalam mellyhandayani 2015) sebagai berikut:

·Guru perlu memahami diri sendiri, karena anak yang belajar tidak hanya dipengaruhi oleh apa yang dilakukan guru, tetapi juga bagaimana guru melakukannya.
·Guru perlu memiliki pengertian tentang keterbakatan.
·Guru hendaknya mengusahakan suatu lingkungan belajar sesuai dengan perkembangan yang unggul dari kemampuan-kemampuan anak.
·Guru memberikan tantangan daripada tekanan.
·Guru tidak hanya memperhatikan produk atau hasil belajar siswa, tetapi lebih-lebih proses belajar.
·Guru lebih baik memberikan umpan balik daripada penilaian harus menyediakan beberapa alternatif strategi belajar
·Guru hendaknya dapat menciptakan suasana di dalam kelas yang menunjang rasa harga diri anak serta dimana anak merasa aman dan berani mengambil resiko dalam menentukan pendapat dan keputusan.


Sumber Referensi

Gunarsa, S. D. & Gunarsa, Y. S. D. (2004). Psikologi praktis : Anak, remaja, dan keluarga. Jakarta : Gunung Mulia.

Mellyhandayani. (2015, 16 Mei). Implementasi teori Barbe dan Renzulli dalam pembelajaran. Diperoleh 14 November 2017, dari
    https://mellyhandayanicyrus.wordpress.com/2015/05/16/implementasi-teori-barbe-dan-renzulli-dalam-pembelajaran/

Pengertian Kreativitas (Konsepsional 4P)

     Menurut Semiawan dalam Yeni Rachmawati (2005:16) mengemukakan bahwa kreativitas merupakan kemampuan untuk memberikan gagasan baru dan menerapkannya dalam pemecahan masalah. Menurut Chaplin dalam Yeni Rachmawati (2005:16) mengutarakan bahwa kreativitas adalah kemampuan menghasilkan bentuk baru dalam seni, atau, dalam permesinan, atau dalam pemecahan masalah-masalah dengan metode-metode baru.

     Menurut Utami Munandar (1995: 45) setiap orang pada dasarnya memiliki bakat kreatif dan kemampuan untuk mengungkapkan dirinya secara kreatif, meskipun masing-masing dalam bidang dan dalam kadar yang berbeda-beda. Yang terutama penting bagi dunia pendidikan ialah bahwa bakat tersebut dapat dan perlu dikembangkan dan ditingkatkan. Sehubungan dengan pengembangan kreativitas siswa, kita perlu meninjau empat aspek dari kreativitas, yaitu pribadi, pendorong, press, proses, dan produk (4P dari kreativitas).

Pribadi

Kreativitas adalah ungkapan (ekspresi) dari keunikan individu dalam interaksi dengan lingkungannya. Ungkapan kreatif ialah yang mencerminkan orisinilitas dari individu tersebut. Dari ungkapan pribadi yang unik inilah dapt diharapkan timbulnya ide-ide baru dan produk-produk yang inovatif. Oleh karena itu pendidik hendaknya dapat menghargai keunikan pribadi dan bakat-bakat siswanya (jangan mengharapkan semua melakukan atau menghasilkan hal-hal yang sama, atau mempunyai minat yang sama). Guru hendaknya membantu siswanya menemukan bakat-bakatnya dan menghargainya.

Pendorong (press)

Bakat kreatif siswa akan terwujud jika ada dorongan dan dukungan dari lingkungannya, ataupun jika ada dorongan kuuat dalam dirinya sendiri ( motivasi internal) untuk menghasilkan sesuatu. Bakat kreatif dapat berkembang dalam lingkungan yang mendukung tetapi dapt pula terhambat dalam lingkungan yang tidak menunjang. Di dalam keluarga, di sekolah, di dalam lingkungan pekerjaan maupun di dalam masyarakat harus ada penghargaan dan dukungan terhadap sikap dan perilaku kreatif individu atau kelompok individu

Proses

Untuk mengembangkan kreatif, anak perlu diberi kesempatan untuk bersibuk diri secara aktif. Pendidik hendaknya dapat merangsang untuk melibatkan dirinya dalam kegiatan kreatif, dengan membantu mengusahakan sarana dan prasarana yang diperlukan. Dalam hal ini yang penting ialah memberi kebebasan kepada anak untuk mengesprsikan dirinya secara aktif, tentu saja dengan persyaratan tidak merugikan orang lain atau lingkungan. Pertama-tama yang perlu ialah proses bersibuk diri secara kreatif tanpa perlu selalu atau terlalu cepat menuntut dihasilkannya produk-produk kreatif yang bermakna. Hal itu akan datang dengan sendirinya dalam iklim yang menunjang, menerima, dan menghargai. Perlu pula diingat bahwa kurikulum sekolah yang terlalu padat sehingga tidak ada peluang untuk kegiatan kreatif, dan jenis pekerjaan yang monoton, tidak menunjang siswa untuk mengungkapkan dirinya secara kreatif.

Produk

Kondisi yang memungkinkan seseorang menciptakan produk kreatif yang bermakna ialah kondisi pribadi dan kondisi lingkungan, yaitu sejauh mana keduanya mendorong (“press”) seseorang untuk melibatkan dirinya dalam proses (kesibukan, kegiatan) kreatif dengan dimilikinya bakat dan ciri-ciri pribadi kreatif, dan dengan dorongan (internal maupun eksternal) untuk bersibuk diri secara kreatif, maka produk-produk kreatif yang bermakna dengan sendirinya akan timbul. Hendaknya pendidik menghargai produk kreativitas anak dan mengkomunikasikannya kepada yang lain. Misalnya dengan mempertunjukkan atau memamerkan hasil karya anak. Ini akan lebih menggugah minat anak untuk berkreasi.


Sumber Pustaka:

Rahmawati, Yeni & Euis Kurniati. (2005). Strategi pengembangan kreativitas pada anak usia taman kanak-kanak. Jakarta : Depdikbud.
Munandar, Utami. (1995). Pengembangan kreativitas anak berbakat. Jakarta: P.T. Rineka Cipta.


Game Online

Dari tahun ke tahun perkembangan internet seperti jamur yang tidak terkendali, setiap hari sepertinya sulit bagi kita untuk tidak membuka atau mengakses internet, memang tidak bisa dipungkiri bahwa internet sudah menjadi candu bagi sebagian besar orang di dunia. E-mail, media sosial, dan game online adalah tiga aplikasi yang paling sering dibuka oleh pengguna layanan internet. Game online adalah aplikasi permainan dengan sambungan (terhubung) ke jaringan internet yang menghubungkan satu pemain dengan pemain lainnya dalam suatu wadah dunia maya. Pengaruh game online cukup besar dalam perkembangan kognitif dan kepribadian anak pada fase kanak-kanak hingga remaja, khususnya di Indonesia. Sebagian besar dari anak-anak atau remaja di Indonesia memiliki game online pada gadget atau console mereka masing-masing yang pastinya mereka mainkan sedikitnya satu kali dalam sehari yang berpengaruh terhadap aktivitas harian anak. Namun, sebagian orang masih memandang "Game" hanya sebagai alat pembunuh waktu yang tidak berguna tanpa melihat adanya sisi positifnya bagi perkembangan anak.

Pada prinsipnya, game sendiri terdiri dari bermacam-macam jenis permainan yang mempunyai derajat kesukaran yang tidak sama, sehingga memerlukan kesiapan, penalaran, dan konsentrasi. Dari pengamatan terhadap pemain terlihat bahwa mereka tahan duduk berjam-jam untuk bisa menyelesaikan permainan itu. Mereka bahkan tidak mau diusik, mereka larut dalam keasyikan permainan itu. Apalagi dalam permainan ini juga dirancang suatu reinforcement yang bersifat segera begitu pemain berhasil melampaui target tertentu. Cara ini akan lebih mendorong anak untuk meningkatkan prestasi permainannya sehingga memperoleh skor yang tertinggi. Meskipun game membuat anak kecanduan, namun ada manfaat yang dirasakan untuk anak-anak. Game membuat anak lebih sabar dan tekun. Ketika anak berjumpa dengan console dan game baru, maka ia akan mudah kesal dan marah, namun seiring berjalannya waktu, anak mampu untuk menemukan cara untuk memenangkan suatu stage dan mulai beradaptasi dengan aturan main game tersebut sehingga anak secara tidak langsung dilatih untuk memecahkan masalah dan mengasah kemampuan analisnya. Pada dasarnya, manusia senang merespon terhadap tantangan, game dapat menjawab hal ini. Selain untuk belajar, game juga dapat mengembalikan prediksi anak (kemampuan analis) dan melatih refleks motorik halusnya. Banyak  orang menganggap bahwa game akan membuat anak terisolasi dari dunia luar, walaupun game online memberikan keunggulan untuk berinteraksi dengan pemain lain, hal ini tidak membuat pemain terjun langsung dan mengambil peran dalam kehidupan sosial. Memang harus diakui bahwa interaksi antar manusia dalam jaringan itnernet tidak mampu menggantikan interaksi antar manusia yang lazim. Game mampu meningkatkan kemalasan pada anak dan mengambat anak dalam mengerjakan tugas-tugas rutinnya. Bisa saja anak jadi malas mandi, malas makan, juga malas belajar. Tetapi bermain game sebenarnya juga membuat kepercayaan diri anak menjadi besar. Ia merasa mempunyai sesuatu yang dapat dibanggakan kepada teman sabayanya sehingga tidak canggung untuk bergaul dengan teman yang baru dikenal. (Akbar & Hawadi, 2001)

Dampak positif lain yang ditimbulkan aktivitas bermain game online adalah mengusir stress. Aktivitas ini dapat mengendurkan syaraf. Di samping itu, dalam jenis game tertentu juga bermanfaat untuk terapi fisik dalam pembentukan otot serta memperoleh inspirasi. Tetapi, pastikan kita tidak terjebak dalam game yang memakan waktu sangat lama dan tingkat kesulitan yang sangat tinggi, karena kegagalan dalam hal ini justru bisa menimbulkan stress. Pilihlah game yang mampu mengasah otak dan mampu memberikan dampak positif lainnya. (Jubilee, 2010) 

Telah banyak bukti bahwa konten dalam game mempengaruhi perilaku seseorang, tidak sedikit pula konten game yang menyajikan kekerasan dan hal negatif lainnya yang berdampak cukup hebat bagi psikologis kita, hal ini juga bertambah parah lantaran game dijadikan sebagai pelarian oleh para remaja. Kalau sudah bete atau badmood untuk pergi ke sekolah, pasti larinya ke game lagi.. game lagi.. Celakanya game jadi tempat pelampiasan emosi kita, emosi yang tidak stabil mengakibatkan kita sulit berkonsentrasi dan berpikir dalam memecahkan permasalahan dalam game, sehingga bukannya kemenangan yang membahagiakan justru malah mendapatkan kekalahan yang membuat emosi kita semakin buruk. Anak-anak dan remaja masa kini sangat bangga dengan julukan gamer. Namun tahukah kalian bahwa gamer sejati sudah cukup pandai dalam mengatur waktunya, serta menganggap bahwa game itu hanya sebagai hiburan dengan memilih jenis game yang tepat dan dimainkan saat emosi kita juga dalam keadaan yang sesuai untuk game tersebut. Dan bermain game bukanlah jalan terbaik untuk melampiaskan kekesalan atau rasa badmood, alangkah baiknya kita ceritakan masalah kita pada orang yang kita percayai, bukan melalui celotehan, cacian, atau bentuk ekspresi lain yang kita umbar dalam game online yang kita mainkan. (Januar & Turmudzi, 2006)

Menurut Segal & Segal (dalam Akbar & Hawadi, 2001) menyatakan bahwa game merupakan sarana untuk membentuk kepercayaan diri anak. Para ahli perkembangan anak juga memandang bahwa game mampu memperluas cakrawala intelektual anak, membantu anak belajar sambil bermain dengan lebih baik, lebih cepat dengan motivasi belajar lebih tinggi. Namun, memang sebaiknya jumlah waktu untuk bermain dibatasi. Di samping itu, anak dirangsang untuk bermain dalam kelompok, jadi usahakan agar dalam bermain game anak juga mengajak anak lainnya (bukan dalam interaksi dunia maya).

Ketika peminat meningkat, maka penyedia layanan internet untuk bermain game maupun game creator juga akan tumbuh dengan pesat. Menurut Darma, Jarot, & Ananda (2009), game online saat ini menjadi bisnis yang sangat menjanjikan. Lihatlah sekeliling kita, mulai banyak warung internet (Warnet) -istilah yang digunakan untuk tempat penyewaan console dengan layanan internet- yang tumbuh dan bermunculan. Jika dulu warnet hanya digunakan untuk browsing, sekarang warnet dijadikan arena untuk bermain game. hal ini dikarenakan kecenderungan makin hari para penggemar game makin bosan bermain sendiri dan memilih berain bersama pemain lain (bukan komputer). Di samping itu, bermain game dengan pemain lain terasa lebih nyata dan menimbulkan tantangan tersendiri. Berbeda dengan berman melawan komputer yang kesannya monoton dan gerakan musuh gampang dihapalkan karena dia telah diprogram seperti itu. 

Sumber Pustaka:
Akbar R. & Hawadi. (2001). Psikologi perkembangan anak : mengenal sifat, bakat, dan kemampuan anak. Jakarta : PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.
Darma, Jarot S., Ananda S. (2009). Buku pintar menguasai internet. Jakarta : Mediakita.
Januar M. I. & Turmudzi E. F. (2006). Game mania. Jakarta : Gema Insani Press
Jubilee E. (2010). 88 cara inspiratif berburu ide untuk blog. Jakarta : PT. Elex Media Komputindo

Seks dalam Internet

     Masa modern identik dengan segala hal yang praktis dan cepat. Kemudahan mengakses berbagai informasi melalui internet membuat dengan mudah mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang kita miliki. Internet menghubungkan satu orang dengan orang lain yang tidak saling mengenal latar belakang bahkan tujuan masing - masing orang dalam menggunakan jaringan ini. Hal ini membuat pengguna internet terbagi atas dua; creator (seseorang yang membuat atau memberikan informasi, baik dalam bentuk gambar, tulisan, ataupun video) dan user (seseorang yang menggunakan informasi yang dibuat oleh creator untuk memenuhi tujuannya).

     Segala sesuatu pasti akan selalu terbagi atas sisi "hitam-putih", begitu pula internet. Memang benar adanya bila internet memberikan manfaat yang sangat besar bagi kehidupan kita, tetapi tidak dapat kita pungkiri bahwa terdapat dampak negatif yang sangat besar di balik sisi positifnya. Dikarenakan internet dapat diakses oleh segala umur, membuat mereka (biasanya anak-anak sampai remaja) cenderung menggunakan internet dengan tidak bijak, mulai dari sekedar berkicau di sosial media, menghujat, menonton video yang tidak pantas, bahkan hingga mencari sensasi selebriti.
 

     Creator dengan bebas dapat mengekspresikan berbagai hal dalam jaringan internet, beberapa dari mereka membagikan hal-hal positif yang mengedukasi user, adapun sebagian dari creator yang justru membuat atau membagikan hal-hal negatif. Salah satunya adalah Ponografi. McManus (dalam Gunarsa, 2010) mengemukakan bahwa terdapat beberapa efek negatif yang dialami remaja akibat cepatnya perubahan dan perkembangan teknologi internet, yaitu meningkatnya agresivitas dalam kehidupan seks.
 

     Pornografi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah penggambaran tingkah laku secara erotis dengan tulisan atau lukisan untuk membangkitan nafsu birahi; atau bahan bacaan yang dengan sengaja dan semata-mata dirancang untuk membangkitkan nafsu berahi dalam seks. sedangkan menurut Rancangan Undang-Undang, definisi pornografi disebutkan dalam pasal 1, yang menyatakan bahwa pornografi adalah materi seksualitas yang dibuat oleh manusia dalam bentuk gambar, sketsa, ilustrasi foto, tulisan, suara, bunyi, gambar, bergerak animasi, kartun, syari, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan komunikasi lain melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat. (Chatib, 2012)
 

     Pornorgrafi dapat berakibat fatal bagi para user (terlebih lagi yang masih di bawah umur), karena dapat menyebabkan kecanduan dan merusak jaringan sel pada otak, sehingga user tersebut dapat mengalami gangguan pada kemampuannya dalam berpikir, penalaran, atau ingatan (kognitif). Pada kasus user yang secara berkala mengkonsumi pornografi dalam internet akan membuat otak bagian depan atau lebih tepatnya pada lobus frontal (bagian yang mengatur kesenangan) memproduksi hormon dopamin secara berlebihan, sehingga membuat penumpukan dan mungkin berujung pada penyumbatan yang dapat menurunkan kinerja bagian otak lain atau bahkan merusaknya. Karena saat otak kita gunakan secara berlebihan (terfokus) pada satu bagian, maka bagian otak yang lainnya akan cenderung pasif dan tidak dapat menerima stimulus dengan baik. itu sebabnya kita sering tersandung saat sedang berjalan sambil memikirkan suatu hal. Pornografi juga merusak jaringan otak dengan penanaman pengalaman atau persepsi negatif yang sewaktu-waktu dapat terpanggil dan kembali dalam bentuk ingatan atau bayangan yang membuat user berpikiran kotor.

     "Tidak mungkin ada asap kalau tidak ada api", tidak mungkin ada creator yang membuat atau membagikan hal-hal negatif kalau tidak ada user yang mengkonsumsinya. Jadi, tidak ada orang yang dapat kita salahkan dalam kasus ini. Tetapi alangkah baiknya kita lebih bijak dalam menggunakan internet, dapat pula kita melindungi adik atau anak yang kita sayangi dengan memberikan pengawasan dan edukasi dini agar mereka mengerti dan tahu apa yang mereka ingin tahu dari mulut (perkataan) kita selaku orang yang tua atau orang yang lebih mengerti dan sudah cukup bijak dalam menggunakan internet, sehingga mereka tidak perlu mencari sendiri dengan sumber yang belum pasti yang dapat menjerumuskan mereka pada rantai sisi hitam jaringan internet.

Daftar Pustaka:
Gunarsa, D. S. (2010). Dari anak sampai usia lanjut. Jakarta : BPK Gunung Mulia
Chatib, M. (2012). Orangtuanya manusia : melejitkan potensi dan kecerdasan fitrah setiap anak. Bandung : PT Mizan Pustaka

Plagiat Dalam Berinternet

     Menurut Sulianta (2007) menyatakan bahwa plagiarisme atau yang akrab di sebut plagiat adalah bentuk penyalahgunaan hak kekayaan intelektual milik orang lain, yang mana karya tersebut dipresentasikan dan diakui secara tidak sah sebagai hasil karya pribadi.

     Salah satu yang dikategorikan ke dalam kekayaan intelektual adalah internet konten (misalnya: artikel, karikatur, gambar gerak, tulisan pada email, dan masih banyak lagi). Ada udah dibalik batu, demikian pula ada keuntungan bagi pelaku dengan tindak plagiarisme. Si plagiator mendapatkan keuntungan baik moral dan materill terhadap karya orang lain yang diakui sebagai karyanya. 

     Lebih jauh lagi, selain dapat merugikan si pencipta, plagiarisme juga merugikan si plagiator, karena plagiarisme membunuh kreativitas. Kekosongan ide, kreativitas, dan sifat malaslah yang memunculkan tindakan plagiarisme. 

     Plagiarisme sudah menjamur dan dianggap biasa oleh sebagian orang, tapi sadarkah kita? Bahwa disetiap hasil karya orang lain, ada usaha dan tenaga yang mereka keluarkan untuk sekedar memberikan informasi yang berguna kepada kita semua melalui karya mereka. 

     Umumnya plagiarisme marak dikalangan siswa dan mahasiswa, ironis memang! Orang – orang yang seharusnya produktif dalam berkarya dan belajar malah melakukan tindakan demikian dan ditujukan untuk mengerjakan keperluan pendidikan. Semisal membuat makalah, mengerjakan tugas, menulis esai, karya ilmiah, dan lainnya.

Beberapa alasan yang memunculkan tindakan plagiarisme:
  1. Kurangnya kesadaran beretika, siswa atau mahasiswa hanya menggunakan internet tanpa tau cara berprilaku dan kode etik yang harus dijalankan. 
  2. Fasilitas internet 
  3. Perangkat teknologi internet dengan tingkat mobilitas tinggi 
  4. Perubahan budaya 
  5. Mengupayakan hasil tanpa memikirkan prosesnya 
  6. Tersedianya search engine 
  7. Meningkatnya kemahiran plagiator 
     Kini para pelajar dengan mudahnya membuka suatu web atau blog dengan search engine yang mereka miliki pada ponsel mereka, lalu mengganti font type dan sizenya lalu mencatatkan nama pada hasil editan karya orang lain dan mengakuinya sebagai milik pribadi dengan mengumpulkannya demi kepentingan nilai semata.

     Hal demikian dikatakan plagiarisme karena tidak ada ide kreatid dan intisari artikel tidak ubahnya jika dibandingkan dengan karya sumber. Dengan demikian tidak ada karya baru yang dihasilkan dari tindakannya.

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan antara lain: 
  1. Melakukan klarifikasi terhadap pengertian plagiarisme yang sudah beredar di benak siswa. 
  2. Memberitahukan bahwa plagiarisme tidak baik untuk dilakukan, termasuk dalam penyelesaian tugas. 
  3. Merancang ulang metode penilaian, agar tidak menciptakan siswa yang hanya peduli dengan hasil tetapi menempuh cara yang salah. 
  4. Mendorong siswa untuk menghindari plagiarisme 
  5. Mengkomunikasikan tata cara penggunaan material sebagai sumber bahan, bukan menghilangkannya. 
Daftar Pustaka:
     
          Sulianta, F. 2007. Seri Referensi Praktis : Konten Internet. Jakarta : PT. Elex Media Komputindo.

PUISI MANUSIA & PENDERITAAN

Tak Terhentikan

Hidup tanpa alas kaki,
Jalan berduri menanti untuk dilalui,
Terlihat senyuman diujung jalan sedang menanti,
Tubuh ini tak akan berhenti.

Kaki sudah berlumur darah,
Pikiran mulai tak menentu arah,
Semangatpun perlahan sirnah,
Tubuh ini enggan untuk menyerah.
                               
Keseharian ini tetap dijalani,
Tidak jarang ditertawai,..
Sakit sudah pasti,..
Tetapi tubuh ini tak akan berhenti.

Karena,..
Tekad ini sudah membatu,
Tubuh ini sudah setuju,
Segala rasa sakit yang sudah menunggu,..
Terbayarkan hanya dengan melihat senyum mu.

Resensi Novel "Jalan Tak Ada Ujung"


Pengarang : Mochtar Lubis
Penerbit :  Yayasan Obor Indonesia, Januari 2001
Ketebalan Buku : Tebal buku : vi + 167 hlm

“Saya sudah tahu semenjak semula bahwa jalan yang kutempuh ini adalah tidak ada ujung. Dia tidak akan habis-habisnya kita tempuh. Mulai dari sini, terus, terus, terus, tidak ada ujungnya. Perjuangan ini, meskipun kita sudah merdeka, belum juga sampai ke ujungnya. Dimana ujung jalan perjuangan dan perburuan manusia mencari bahagia? Dalam hidup manusia selalu setiap waktu ada musuh dan rintangan-rintangan yang harus dilawan dan dikalahkan. Habis satu muncul yang lain, demikian seterusnya. Sekali kita memilih jalan perjuangan,maka itu jalan tak ada ujungnya. Dan kita, engkau, aku, semuanya telah memilih jalan perjuangan”.- (Hazil, Jalan Tak Ada Ujung)

            Novel ini menceritakan tentang keadaan jakarta yang amat mencekam pasca kemerdekaan, sepertinya kata merdeka yang sudah didapat indonesia belum bisa dirasakan. Perang masih berderu dan perjuangan belum berakhir. Pada keadaan yang seperti ini muncul beberapa pejuang yang rela berjuang demi arti kemerdekaan yang sesungguhnya. Masalah yang dikaji, meliput; masalah ekonomi, keluarga, cinta, bahkan rasa nasionalisme. Berdasarkan alur dan fokus ceritanya, dapat dikategorikan kalau novel ini termasuk novel psikologis karena mengetengahkan banyak konflik batin yang dialami para tokohnya.

Novel tersebut menceritakan tentang kisah seorang guru, Isa namanya, yang ketakutan ketika masa masa revolusi. Seorang guru di pandang tinggi pada saat itu, tetapi hal itu tidak sesuai dengan kenyataan yang dirasakan Isa, dimana kekurangan selalu melanda keluarganya. Selain itu, ia pun harus menerima ketika ia tidak bisa memberikan kepuasan batin kepada istrinya karena penyakit yang dideritanya. Bahkan sang istri yang merasa tidak bisa dipuaskan secara batin oleh guru isa, kemudian berselingkuh dengan teman guru isa sendiri, Hazil. Guru isa tahu akan hal itu tetapi ia memilih untuk diam. Sehingga keharmonisan keluarganya semakin lama semakin berkurang. Ditambah lagi Kehidupannya selalu di landa ketakutan. Setiap hari, setiap malam, dan setiap saat ia merasa was was ketika mendengar serdadu serdadu inggris menyerbu. Ketakutannya dikarenakan saat guru isa sedang menuju ke sekolahnya yang ada di tanah abang. Ia mendengar tembakan untuk pertama kalinya di gang jaksa yang melepas kesunyian kala itu.

Guru isa kemudian bergabung dengan sebuah organisasi pemberontakan. Ia diajak oleh salah satu temannya Hazil yang sangat pintar bermain biola. Ia memiliki tugas untuk menyelundupkan persenjataan dan granat yang digunakan oelh pemberontak untuk melawan belanda. Puncak pemberontakan mereka terjadi ketika guru isa, hazil, dan rakhmat (temannya yang merencanakan ntuk menyerang serdadu belanda di sebuah bioskop bernama bioskop rex). Mereka melemparkan bom tangan di depan pintu masuk bioskop tersebut. Beberapa serdadu belanda terluka akibat ledakan bom tersbut. Setelah itu mereka bertiga pulang ke tempat masing masing dan tidak saling memberi kabar untuk selang waktu yang lama. Hazil kemudian ditangkap oleh polisi militer, ia mengakui perbuatannya dan menyebutkan siapa saja yang terlibat dalam kasus itu. Tak lama kemudian guru isa menyusul hazil di tangkap polisi. Mereka berdua disiksa karena mereka tidak mau mengaku dimana rakhmat bersembunyi. Pada saat itu Isa kecewa pada hazil karena telah berkhianat dengan memberikan informasi itu. Sampai detik  sebelum akhir hayatnya ia menyadari bahwa dirinya sudah menjadi lelaki seutuhnya dan sembuh dari penyakit yang dideritanya, tapi apa boleh buat, hal itu tidak merubah kenyataan bahwa saat itu adalah waktu kematiannya karena ia tetap tegar dan tidak mau memberikan informasi kepada belanda.

Pesan Moral

Pesan moral yang dapat diambil dari novel “Jalan Tak Ada Ujung” adalah, rasa ketakutan dalam diri manusia itu pasti ada, hanya saja respon setiap orang dalam menyikapinya berbeda-beda. yang perlu direnungkan adalah bagaimana menguasai rasa takut itu agar berubah menjadi kekuatan untuk tetap bertahan dan terus maju, apalagi jika kaitannya dengan memperjuangkan kebenaran serta keadilan.